Jumat, 26 Juni 2020

Puisi - Ramai

(Sumber Foto: Kompas)

Ramai

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya dekat jadi tersendiri
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya segan tuk interaksi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya kabar tak lagi wigati
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya cengkrama picu keki

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya mati di hati
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya pikir tak fungsi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya ladang khairat sepi
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya tak ingin berbagi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya tak syukur rizki
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya munajatpun tak berisi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya Tuhan seperti tak sedekat nadi


Rachmat Agung P.
Semarang, 22 Juni 2020

________________________

"Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian"

-Emha Ainun Nadjib-


Ini adalah hasil karya sobat pustaka. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!


Senin, 22 Juni 2020

Sabtu, 23 Mei 2020

Puisi - Resolusi Buruh Tani

Sumber Foto: Viva.com


Resolusi Buruh Tani

Pernahkah Tuan merasa?
Jika terompet yang saling bersautan
Serta lagu yang tak hentinya Tuan dendangkan
Di telingaku terdengar seakan genderang perang

Ya, sudah waktunya untuk bertempur
Penuhi tuntutan hingga keringat penuh lumpur
Untuk si kecil yang merengek minta bubur
Tak jarang pula, bini  malah minta kabur

Begitulah nasib kami
Si buruh yang melekat pada kaum tani
Sungguh tiada banyak resolusi yang kami miliki
Hanya ingin, segala kebutuhan tercukupi

Tuan, kuharap engkau maklum dengan tulisan ini
Kami bukan pujangga maupun sekelas menteri
Yang lihai menggunakan bahasa tinggi
Bahkan tak terjangkau walau sudah kami daki

Oh ya, jika Tuan bersedia
Titipkan salam ini untuk Bapak Ibu di singgasana
Tak cukupkah mulut manis itu terus berbusa?
Padahal banyak janji yang kerap sekadar wacana



Ruli Rukmana Sakti
Semarang, 4 Januari 2019

_______________________
Puisi ini sebenarnya saya tulis di tiga kota yaitu Semarang, Solo dan Yogyakarta. Dikarenakan penulisan akhir berada di Semarang, maka saya putuskan untuk mencantumkan kota Semarang di dalamnya. Puisi ini juga pernah dimuat oleh di IDNTimes dengan link berikut ini: Resolusi Buruh Tani.

Mari membaca, mari merasa dan mari mencoba. Panjang umur literasi!

Jumat, 22 Mei 2020

Celoteh - Mawar Hitam Keperakan

Sumber Foto: pxhere.com


Kepulan asap dari kopi dan cerutu menjadi suatu paduan yang indah. Seindah perkenalanku dengan dirimu, kasih.

"Kalau bisa, menulislah dalam keadaan netral. Supaya tulisanmu tak campur aduk."

Temanku yang satu ini memang lihai untuk urusan hati. Namun, bagaimana bisa sebuah tulisan seperti ini hadir dengan suatu kenetralan?

Kopi akan nikmat jika ampasnya sudah mengendap. Sama halnya dengan mencari ilmu yang perlu adanya masa pengendapan. Tapi, apakah mungkin rasa ini dapat diendapkan terlebih dahulu? Selera humormu tinggi, kawan.

Aku sedang tidak netral. Bagaimana bisa netral jika mawarku memiliki warna baru? Dia tak lagi merah melainkan hitam pekat yang memancarkan warna keperakan. Memiliki sukma layaknya insan. Berpendar elok penuh nada dan warna.

Mengapa bisa begini? Mungkin karena bacaanku seminggu ini terkait dengan Budaya Skandinavia. Makianku sepanjang hari atas indahnya wanita perak Skandinavia merasuk kedalamnya. Entah mengapa aku suka perak. Bukan emas maupun perunggu. Perak cukup bagiku. 

Semua hanya perkara satu arah. Tak peduli esok mawarku akan menusukku dengan durinya, atau mungkin memberikan hadiah berupa semerbak harumnya. Aku hanya ingin tetap bisa melihatnya.

Membersamai dikala dia tumbuh dan meranum. Memandang nanar diluar kotak kaca ajaib yang kukenakan padanya dulu. Aku hanya ingin bersua. Tanpa berharap dapat merasa.

Mawarku akan terus tumbuh dan berevolusi. Ya, revolusi mungkin kata yang tepat. Karena kata reformasi nampaknya sudah tak ada marwahnya lagi.



Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 22 Mei 2020

Celoteh - Setangkai Mawar Dini Hari

Sumber Foto: Dribbble.com


Bersama gitar ini kualunkan senandung bait tentang hitamnya dunia. Tak terasa lintasan waktu kian pudar dan terus membiru. Dini hari yang tak pernah kuinginkan sama sekali. Terkutuklah segala senyap yang menenangkan diri. Hinalah mereka yang lelap membatu ketika mawarku tumbuh tak kenal jemu. Durjana.

Mawarku kian meranum. Semerbak wanginya penuhi seluruh sudut kamar tidurku. Mawar terindah yang tak bisa kau dapatkan dimana pun juga. Mawarku yang merah. Mawarku yang manis.

Percayalah kawan, tak akan bisa kau ambil mawar ini dariku. Akarnya hanya akan tumbuh pada tiap petikan gitarku. Daunnya kian merekah saat terpapar rangkaian kata yang keluar dari mulutku.

Seperti mawar lain yang ada di dunia, mawarku kaya akan duri. Dia tak hanya memberi luka, namun kerap kali menyengat jika kau dekati. Mawarku yang manis. Mawarku yang indah.

Tepat pada hari ini. Saat dini hari tiba, entah mengapa mawarku kian mempesona. Saat dimana kesunyian membaur dengan kepahitan dan busuknya sebuah cita. Seakan bumi tengah terlelap dengan segala harapannya. Mawarku kian merona. Tumbuh subur oleh rangkaian sumpah serapah yang sarat akan keputusasaan. Mawarku tampak lebih indah dari biasanya.

Dini hari kali ini memanglah berbeda. Kepulan asap nampak beradu. Lengkingan nada kian mendaki. Dini hari sebelumnya tak pernah kutemui mawarku seperti ini. Apakah mungkin rangkaian kata yang terucap dan lengkingan nada yang bergema mempengaruhinya?

Mawarku berevolusi dengan segala elegi yang menyertainya. Rangkaian kata manis penuh harapan yang kupupuk tiap hari nampaknya tak cukup ampuh untuk membuatnya sesubur dan semerah ini. Merah kental yang tak pernah kulihat sebelumnya terpampang jelas di depan mataku. Begitu indahnya. Begitu manisnya.

Kuurungkan segala niat untuk memberikan mawar ini kepada siapapun. Termasuk kepada dia yang telah memberikan bibit mawar ini sekalipun. Dia yang telah memberikan secercah alasan kepadaku untuk merawat mawar ini sepanjang waktu. Sirnalah semua. Tak akan kuberikan padanya.

Cukuplah diriku yang menikmatinya. Mawar yang penuh dengan kebencian dan dibaluti duri keputusasaan. Mawar yang kuoles dengan alunan rasa sesal yang tiada satu orang pun dapat membayangkannya. Tak sudi kuberbagi atasnya.

Lagi pula, tak ada orang lain yang dapat merawatnya. Mawar itu akan menjadi sumber bencana yang dengan sekejap mata dapat merusak seluruh organ tubuhmu secara berkala. Matamu akan terus menangis tak kuat menahan kilaunya. Peluhmu akan mengucur deras karena tak sanggup menerima semerbak wanginya. Dan pada puncaknya, ragamu akan membatu saat menerima sengatan durinya.

Mawarku yang sendu. Mawarku yang lucu. Ingin rasanya kunikmati tiap jengkal pesona dan ranumnya mawarku itu tanpa adanya lagi sekat. Kucari cara agar dirinya tak terpaut oleh ruang dan waktu. Kubongkar kembali berbagai perkakas aneh yang telah kupendam lama di gudang rumahku. Kotak kaca yang kusimpan selama ini nampaknya cocok untuk mawar kesayanganku.

"Segala hal yang ada di dalam kotak kaca ini akan tetap abadi."

Tak masuk akal bukan? Setidaknya saat ini kupercaya pada tulisan kecil yang terpampang jelas pada kotak kaca itu. Kotak kaca usang yang sejak lama kusimpan untuk sebuah hal terindah yang ada dalam hidupku. Ku ingin mawarku abadi. Ku ingin menikmatinya tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan, hukum alam pun tak sanggup menyentuhnya. Mawar merahku yang manis. Mawar merahku yang abadi.

Kusimpan mawar merahku dalam kotak kaca yang usang itu. Kutempatkan pada sudut terbaik kamar tidurku. Dan tak terasa, segala keputusasaan ini cukup melelahkan ragaku. Kupandangi mawar merahku yang ranum itu dengan tatapan lembut yang tak pernah kuberikan pada siapapun.

Dini hari mulai berganti. Sang fajar mulai menampakkan jati diri. Lambat laun kesunyian kian menghilang. Tubuhku kian melayu seiring datangnya keramaian. Pandanganku mulai meredup. Hitam mendominasi. Rasa kaku mulai merajai. Kaki dan tangan rasanya sudah tak lagi kumiliki. Gelap.

Namun, mawarku tetap dapat kubayangkan. Mawar yang hanya tercipta untuk diriku seorang. Mawarku yang merah. Mawarku yang indah. Abadi.



Ruli Rukmana Sakti
Semarang, 24 Maret 2020

Puisi - Papua Juga Indonesia

Sumber Foto: Liputan6.com

Papua Juga Indonesia

72 Tahun yang lalu
Kurasa kita semua sudah bebas dari belenggu
Dengan Ambisius
Kita bakar imperialisme itu
Kita bakar kompeni itu sampai hangus

Namun sayangnya,
Semua itu seakan hanyalah mimpi yang fana
Sebatas perayaan yang kasat di mata
Bahkan mampu kita habiskan dalam satu malam saja

Bukankah ini mimpi yang mengerikan kawan?
Sekaligus menghina kedewasaan pikiran
Bagaimana tidak?
Setelah sekian lamanya mengenyam kemerdekaan
Setelah sekian tahun lamanya berkoar tentang kebebasan
Namun semua itu seakan hanya milik sebagian

Ketuklah nuranimu kawan
Tanyakan, apakah ini yang dinamakan kemerdekaan?

Bila Palestina yang jauh kau bela
Lalu belaga lupa pada saudara?

Papua Juga Indonesia

Emas dirampas
Minyak dikuras
Tanpa menyisakan bekas
Yang membuat mereka pantas

Semua seakan peduli
Tanpa ada yang benar tulus mengabdi

Papua tidak butuh emas, batu bara atau alam yang melimpah ruah
Papua hanya butuh perhatian
Dari kita yang mengaku saudara
Agar tak luput dari bencana

Namun apakah kita pernah peka?
Rasa - rasanya rakyat kecil menjerit
Kita tak pernah memalingkan wajah barang sedikit

Kemudian, apakah kemerdekaan sudah kehilangan marwahnya?
Indonesia semata tak hanya di Pulau Jawa
Melainkan Aceh hingga Papua

Kita terlalu lama berdoa pada subuh
Untuk selesaikan masalah yang makin lama makin keruh

Timur adalah tanah yang terus diberi janji
Beserta harapan yang tak pernah pasti
Sebab Indonesia adalah barat, tengah dan timur
Tak boleh ada yang tersungkur

Jika di Timur ada yang terluka
Maka di Barat harus pula merasa duka
Jika yang tergores ada padamu
Maka yang mengerang haruslah suaraku


BEM DIMAS 2018
Semarang, 11 Maret 2018

________________________
Puisi ini dibuat bersama oleh rekan Bidang Pengabdian Masyarakat BEM FH UNDIP 2018 yang dibacakan oleh Chandra Ardiano, Annisa Riska dan Ruli Rukmana Sakti dalam suatu pentas seni. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!


Celoteh - Musik Kekunoan (?)



Hujan dan musik seakan menjadi suatu perpaduan menarik saat ini. Musik bukan lagi menjadi suatu bagian dalam seni. Namun lebih dari sebuah komoditi. Sama halnya dengan musik lawas. Semakin digosok semakin mantap. Apakah kamu tertarik dengan hal ini?

Saya akan berbagi sedikit celotehan ringan malam ini. Bagi kamu yang belum tahu mengapa saya menulis hal semacam ini, Pancarobaku juga merupakan wadah bagi saya untuk menuangkan segala hal yang ingin saya tulis. Jika kamu tidak suka dengan karangan bebas yang saya tulis kali ini, boleh di skip saja. Toh, ini hanyalah catatan kosong biasa.

Kembali ke musik lawas. Tak ada acuan maupun batasan tertentu sejauh mana lagu yang kita dengarkan masuk dalam kategori "lawas" maupun "baru". Namun, saya sejenak ingin mengajak kalian hanyut kembali dengan musik di Indonesia sebelum tahun 2000'an. Banyak musisi yang masih eksis sampai saat ini. Mulai dari band maupun solo yang tentu tak asing lagi di telinga kita semua. Sebut saja Iwan Fals, Dewa 19, Slank, Padi, Rif, Kidnap Katrina, BiP, Sheila On 7, Jikustik, Shaggy Dog, Naif dan masih banyak lagi.

Banyak pula band dari Indonesia yang menyabet berbagai penghargaan. Kalian tentu bisa mencari sendiri tentang hal itu di Google. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, mengapa banyak orang yang mengatakan bahwa selera musik saya terlalu kekunoan? Padahal banyak musik lawas yang enak didengarkan. Simpel dan penuh makna. Saya bahkan sulit untuk menikmati musik kekinian. Karena menurut saya cenderung lebih kompleks dan penuh aransemen. Selera saya memang yang aneh.

Sejak kecil saya dijejali karya Nicky Astria, Nike Ardilla, Iwan Fals dan Slank. Sesekali The Beatles dan The Rolling Stones mampir juga menemani malam sebelum tidur. Itu semua tentu tak terlepas dari selera musik Bapak dan Ibu. Saya lahir tahun 1997 dan saya tinggal di suatu komplek perumahan yang terbilang asik. Satu gang depan rumah saya adalah keluarga besar dari Ibu. Jadi, tetangga saya adalah keluarga saya. Dan kamu tahu? Hampir semua keluarga besar saya adalah penikmat musik dari Slank. Terlebih album 1 - 5 yang dibawakan Slank Formasi 13 saat itu. Selebihnya, mereka adalah Baladewa dan OI. Slank, Dewa 19 dan Iwan Fals cukup memiliki andil yang besar dalam warna musik yang saya nikmati.

Saya sempat mendengarkan semua album Slank sejak dari album pertama hingga yang terbaru. Mulai dari album dengan lirik yang sangat nakal, vulgar, menohok hingga romantis dan penuh makna akan cinta pada Tuhan maupun pada Ibu. Anyer 10 Maret, Gemerlap Kota dan Terbunuh Sepi cukup membuat hati ini seakan teriris. Aku Gila, Kalah dan Memang cukup membuat saya ditegur tetangga jika menyanyikannya di tengah malam. Terlalu Manis, Kirim Aku Bunga, Foto Dalam Dompet dan Mawar Merah cukup membuat saya lihai dalam merayu pujaan hati.

Memang banyak kenangan yang kita ukir dalam hidup ini. Alunan musik yang kita dengar pun sering kali menjadi penenang, penyemangat dan gudang inspirasi dalam berkarya. Karya apapun. Termasuk di dalamnya perihal urusan kerja. Bicara tentang kerja, konser dapat menjadi salah satu momen untuk melepas penat saat seharian dipusingkan dengan urusan kerja. Konser pertama yang kamu datangi tentu mempunyai kenangan tersendiri bukan? Boleh saya tahu apa konser musik pertama yang kamu kunjungi? Ceritakan di kolom komentar ya!

Konser pertama yang saya kunjungi yaitu konser Slank di Purwokerto. Masih seputar Slank lagi. Maafkan saya ya. Itu momen yang tidak akan bisa saya lupakan. Sore itu saat saya masih SD saya diajak saudara untuk ikut nonton Slank. 

Orang tua saya pun mengijinkan, karena bisa dibilang yang berangkat ke sana adalah rombongan dari keluarga saya sendiri. Kami lantas bergegas dengan vespa kesayangan dan berangkat beriringan ke Purwokerto. Cilacap - Purwokerto seakan menjadi awal petualangan saya atas sejarah musik dalam hidup ini.

Ramai, hangat dan penuh warna. Itu yang dapat saya gambarkan. Semua kalangan seakan membaur menjadi satu di sana. Dan ternyata bukan saya sendiri bocah ingusan kecil yang hadir meramaikan band satu ini. Banyak anak lain entah itu laki-laki atau perempuan yang juga turut hadir. Dan satu hal yang paling  saya suka, semuanya datang untuk menikmati musik.

Kami menari bersama, sendu bersama bahkan duduk bersama. Ya, duduk bersama di atas rumput yang sama. Ada satu momen menarik yang selalu membuat saya terpana. Perlu kamu ketahui, penonton yang hadir sangatlah banyak. Mungkin ini karena saya masih kecil, jadi saya melihat orang sebanyak itu sudah cukup membuat saya kagum. Saya dibuat terpana ketika Kaka dan Bimbim memberi komando agar semua penonton duduk. Pada saat itu saya berada di barisan depan. Dan ketika saya melihat ke belakang, sejauh mata memandang semua orang tampak duduk.

Semua personil dari Slank pun turut duduk. Lagu yang dibawakan saat itu adalah #1. Sobat Slankers tentu akan tahu tentang asal muasal lagu ini. Lagu yang ditunjukan untuk Ibu itu tentu cukup membuat saya merinding. Di usia saya yang masih SD kebetulan saya hafal lagu itu. Semua orang mengeluarkan korek dan senter yang mereka bawa. Saya tak bawa keduanya. Saya hanya bernyanyi dan merinding dibuatnya. Dan kamu tahu siapa yang ada disebelah saya? Remaja pria yang sangat sangar, rambut punk, tindik dan tatto serta pakaian yang rebel sekali. Dia duduk dan bernyanyi. Terlintas saya melihat air mata mengalir di pipinya. Merasuk.

Itu yang membuat saya kagum. Semuanya manusia. Semuanya punya hati. Dan mereka bernyanyi dengan hati. Kebiasaan ini yang terus saya bawa sampai saat ini. Kemanapun saya melihat konser maupun pagelaran, saya berusaha sekuat hati untuk tidak menggunakan gawai yang saya miliki ketika seniman menampilkan karyanya. Saya ingin merasuk ke dalamnya. Saya ingin menemukan kembali orang yang serupa dengan orang yang saya temui ketika konser pertama yang saya kunjungi dulu. Saya ingin seperti dia. Menyatu dan merasuk.

Namun sayang, sulit saya temui momen seperti itu lagi di saat ini. Saya bahkan bingung, kapan mereka bisa menikmati musiknya jika fokus perhatian mereka masih tertuju pada gawai dimana tampilan story media sosial terpampang di sana. Bagaimana kita bisa menari bersama, jika kita harus menjaga kamera gawai kita agar tetap stabil dan fokus saat merekamnya?

Ya. Ini semua murni pandangan saya atas fenomena yang ada. Saya penikmat musik. Saya tidak terlalu selektif dan memfokuskan diri pada genre tertentu saja. Asal mudah didengar, saya akan menyukainya. Namun jika boleh jujur, saya kurang bisa menyatu dan merasuk pada konser yang ada saat ini. Jika saya di belakang, pandangan saya teralih oleh gawai yang menyembul begitu saja. Jika saya di depan, belum tentu samping kanan dan kiri saya ikut menyatu bersama. Semoga kita seniantasa dipertemukan dalam konser yang menyatu ya, suatu saat nanti.

Saya juga sulit untuk menemukan partner hidup dengan selera musik yang sama. Apakah kamu salah satunya? Sampaikan di kolom komentar ya! Mungkin akan menjadi suatu momen yang asik jika setiap pagi datang dan malam menjelang, kita berdua menyatu mendendangkan lagu yang sama.



Ruli Rukmana Sakti
Semarang, 29 Februari 2020