Senin, 24 Februari 2020

Review Buku Sergius Sutanto - Hatta



Identitas Buku
Judul Buku: Hatta "Aku Datang Karena Sejarah"
Penulis: Sergius Sutanto
Penerbit: Qanita / Mizan Pustaka
Terbit: Edisi II, Cetakan I, Januari 2018
Tebal: 364 hlm. (20,5 cm)
ISBN: 978-602-402-096-5
Jenis Buku: Biografi
Harga:  69.000,-

Ulasan
Banyak buku biografi yang mengulas tentang Bung Hatta. Entah itu dari sisi kehidupan politik, masa kecil, remaja bahkan hingga percintaan. Namun tak banyak yang menyajikan cerita biografi layaknya sebuah novel. Bacaan yang cenderung ringan dan bisa menjadi teman dikala kamu sedang "kosong".

Buku ini mungkin dapat menjadi salah satu pilihanmu jika ingin mengenal sosok Bung Hatta lebih dalam. Sergius Sutanto cukup lihai dalam menyajikan kisah dari salah satu proklamator ini dengan menarik dan ringan. Selain dengan cara yang ringan, dapat dikatakan bahwa keluarga dari Bung Hatta pun ikut serta menjaga dari cerita yang disajikan. Dalam hal ini bahkan Meutia Hatta turut memberikan kata pengantar untuk buku ini.

Buku ini akan mudah kamu ketahui. Mulai dari buku asli yang ada di toko buku kesayanganmu hingga buku bajakan yang dijajakan di emperan kota. Banyak pula toko buku online yang menyediakan buku ini. Jadi, kamu tidak perlu kawatir untuk kehabisan stok saat hendak membelinya. Namun, jangan pernah membeli buku bajakannya ya!

Buku ini saya beli di Gramedia Semarang dengan harga Rp. 69.000,-  Namun banyak juga perpustakaan maupun tempat penyewaan buku yang menyediakan buku ini. Semoga senantiasa perihal harga tidak menjadi suatu kendala yang berarti untukmu dalam menikmati buku ini ya.

Dari segi cover buku, pikiran pertama saya yang terlintas adalah minimalis dan elegan. Saya suka dengan covernya. Dengan warna abu-abu yang dominan membuat kita seakan tertarik untuk sejenak membacanya. Siluet Bung Hatta dan tulisan yang timbul juga membuat kesan yang hangat. "Aku Datang Karena Sejarah" cukup membuat penasaran isi dari buku yang disajikan oleh Sergius Sutanto ini.



Di bagian belakang buku, tersemat Blurb yang menuliskan:

"Beri Hatta lima pilihan, rendang, laut, buku, sekolah dan Makkah. Maka, tanpa ragu dia akan memilih Makkah. Sebuah pilihan yang didasari pengaruh Pak Gaek, sang kakek yang menggantikan peran ayah, semenjak Hatta menjadi yatim. Tetapi, sang ibu tak ingin Hatta pergi ke Makkah. Alhasil, nasib pun membawa Hatta muda ke Jakarta kemudian ke Belanda. Bersinggungan dengan ketidakadilan penjajahan membuatnya bergabung dalam pergerakan nasional. Sebuah pilihan penuh risiko yang membuatnya terbuang ke Digul hingga Banda Neira.

Pilihan itu pula yang mengantarkannya bertemu dengan Soekarno, Sjahrir dan orang hebat lainnya. Sjahrir yang suka pesta dan Soekarno yang melamarkan Rahmi untuknya. Meski akhirnya, dia terpaksa melihat bagaimana para sahabatnya ini berlintang jalan dan dia sendiri pun tersingkir, Hatta tak pernah membenci.

Hatta: Aku Datang Karena Sejarah, ditulis Sergius Sutanto yang telah menghasilkan sebuah film dokumenter tentang Hatta. Dengan landasan riset mendalam dan dukungan keluarga, novel ini akan membawa kita lebih dekat pada sosok pribadi bapak bangsa ini."

Dari segi isi buku, Sergius Sutanto dalam menyajikan cerita sangatlah mengalir. Buku ini cukup lengkap, mulai dari membahas masa kecil Bung Hatta, remaja, pendidikan, romansa, masa kemerdekaan, hingga masa akhir hayatnya. Kita seakan dibawa menuju lorong waktu yang sangat menarik. Kamu akan tahu siapa panggilan Bung Hatta saat kecil. Penasaran bukan?

Jika kamu penggemar buku biografi atau autobiografisaya merekomendasikan buku ini untukmu. Jalan cerita yang unik dan hal-hal kecil yang belum kamu tahu dari Bung Hatta mungkin dapat kamu temukan dalam buku ini. Saya sendiri bahkan baru mengetahu beberapa fakta yang belum saya tahu sebelumnya. Semoga kamu mendapatkan pengalaman dan wawasan baru jika kamu membaca buku ini.

Dari segi kertas, buku ini memakai kertas kuning. Kertas yang bagi saya sangat enak untuk dibaca. Tidak melelahkan sebagaimana ketika saya membaca kertas warna putih. Buku ini full tulisan. Tiada gambar sama sekali di dalamnya. Membebaskan kita untuk berimajinasi dengan liar dalam menggambarkan tokoh yang ada dalam buku ini. Kamu juga akan diberi pembatas buku secara gratis di dalam buku ini sehingga buku yang kamu punya tak akan rusak tertekuk dengan begitu saja.




Buku dengan jumlah total 364 halaman ini terbilang cukup tebal. Kamu akan menemukan 51 Bab atau segmen yang membawamu menuju dunia yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Ketebalan dari buku ini memang menjadi suatu kekurangan bagi kamu yang kerap jemu dengan buku penuh tulisan. Namun tunggu dulu, sudah saya katakan di atas bahwa pembawaan dari Sergius Sutanto sangatlah ringan. Dibungkus dengan konsep layaknya sebuah novel, tak menjadi suatu masalah yang berarti jika kamu terbiasa membaca novel yang bahkan dua kali lipat lebih tebal dari buku ini.

Kekurangan dari buku ini tidak bisa dibaca sekali duduk. Dan kamu perlu kondisi yang mendukung dari sisi ketenangan agar kamu bisa memahami apa yang penulis sajikan. Namun, buku ini cukuplah kecil dan tidak menguras isi tasmu tentunya. Jadi, kamu dapat membawa buku ini kemanapun kamu suka.

Buku ini cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan karya biografi ataupun autobiografi.
  • Kamu yang suka dengan buku politik, tokoh bangsa dan cerita di dalamnya.
  • Kamu yang sudah bosan dengan buku politik yang kaku dan terbilang kuno.
  • Kamu dengan kesibukan yang cukup padat. Karena kamu dapat menggunakan buku ini sebagai teman yang baik dikala jam istirahatmu.
  • Pembaca yang sedang riset mengenai kehidupan dari Bung Hatta.
  • Kamu yang suka novel namun dengan cara penyajian yang berbeda.
  • Pembaca pemula seperti saya.
Buku ini tidak begitu cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan buku nonfiksi.
  • Kamu yang suka dengan buku tipis. Karena buku ini cukup tebal dan bisa membuatmu jemu dengan banyaknya halaman tanpa gambar di dalamnya.
  • Kamu yang lebih suka berimajinasi lewat gambar daripada tulisan. Sama sekali tiada gambar di dalam buku ini. Penuh tulisan.
Demikian sedikit review dari Pustaka Indo. Saya akui bahwa memang banyak sekali sisi subyektif yang saya tonjolkan, namun percayalah saya sudah berusaha untuk adil sejak dalam berpikir.

Semoga kamu suka dan mendapatkan informasi dari review yang saya sediakan di atas. Saya tidak akan memberi nilai pada sebuah karya karena semua orang berhak untuk memiliki pandangan yang berbeda. Toh, itu hanya sebatas kumpulan angka saja.

Untuk penutup, saya kutip sedikit kalimat dari buku ini.

"Aku telah memilih pergerakan sebagai jalan hidupku, dan aku pun harus siap menerima segala konsekuensinya."

Saya doakan semoga di rak bukumu yang indah itu ada buku ini yang senantiasa terselip di antara buku-buku bagusmu yang kamu sayangi. Dan jika kamu ataupun saya memilih pergerakan sebagai jalan hidup kita untuk ikut andil dalam membangun negeri, semoga kita juga senantiasa diberi kesiapan untuk menerima segala konsekuensinya. Tetap menjadi manusia, tetaplah membaca dan panjang umur literasi Indonesia!

Minggu, 16 Februari 2020

Review Buku Animal Farm (Binatangisme) - George Orwell



Identitas Buku
Judul Buku: Animal Farm
Judul Buku Terjemahan: Binatangisme
Penulis: George Orwell
Penerjemah H. Mahbub Djunaidi
Penerbit: Penerbit Gading
Terbit: Cetakan Ketiga, Mei 2019
Tebal: 10 + 153 hlm. (13 cm x 19 cm)
ISBN: 978-602-0809-31-1
Jenis Buku: Satire
Harga:  45.000,-

Ulasan
Buku dengan penuh satire mungkin jarang kita temui. George Orwell sudah lihai dalam membuat buku semacam ini sedari dulu. Dan kamu akan menemukan gudangnya penulisan yang membawa pesan tersembunyi di dalam karya-karyanya.

Di dunia peryoutuban mungkin kamu menemukan MLI dengan dua pilar utamanya Coki dan Muslim yang dibalut dengan Debat Kusir membawakan beberapa joke yang penuh akan satire maupun sarkasme. Realita yang mereka bawakan kerap kali menyentil kita dengan segala hal yang kita lakukan hingga kini. Namun, pernahkah kamu membaca sebuah kisah dari kumpulan hewan yang membalut pesan tentang manusia dan segala keserakahannya?

Buku ini akan mudah kamu temui. Mulai dari yang bajakan hingga yang asli. Mulai dari buku terjemahan hingga buku asli Animal Farm dalam bahasa asing. Banyak toko online maupun offline yang menyediakannya. Jadi, kamu tidak perlu kawatir untuk kehabisan stok saat hendak membelinya.

Buku ini saya beli di Jogja dengan harga Rp. 25.000,- di bazar buku. Namun, harga asli di beberapa toko sekitar Rp. 45.000,- Bagi kamu yang suka membaca buku, tentu bukan menjadi suatu masalah perihal harga ini. Kunjungi bazar buku, kamu bisa mendapatkan harga yang lebih miring tentunya.

Dari segi cover buku, minimalis dan elegan. Saya suka dengan covernya. Gambar babi yang sedang menunggangi anjing lengkap dengan pakaian dan cambuknya tentu akan membuat penasaran pembaca tentang isi buku ini. Dapat saya katakan, cover ini sudah cukup untuk menggambarkan keseluruhan dari isi buku. Babi lah kuncinya. Memang babi. Ya mau apa lagi? Tenang, saya tak akan memberikan spoiler untukmu sobat.

Penerjemahan Animal Farm menjadi Binatangisme pun saya rasa merupakan sebuah ide yang sangat cerdas. Selain menambah rasa penasaran pembaca, binatangisme lebih cocok untuk menggambarkan isi buku ini daripada "Peternakan" yang merupakan arti langsung dari Animal Farm itu sendiri.



Di bagian belakang buku, tersemat Blurb yang menuliskan:

"Orang mengatakan, Bernard Shaw menempati posisi tertinggi penulis satire Inggris. Tapi, George Orwell tampaknya sudah mampu mengunggulinya. Kisah pergulatan dengan segala tipu daya memegang tampuk kekuasaan di sebuah peternakan binatang dengan jelas merupakan sindiran tajam namun jenaka bagi umat manusia.

Dengan bakat sastra yang ada padanya, George Orwell tidak meneruskan studinya di Oxford atau Cambridge seperti umumnya dilakukan orang-orang berbakat di Inggris. George Orwell memilih jadi politisi di Birma!

Bukunya Tahun 1984 memang buku yang membuat George Orwell menjulang tinggi namanya ke langit. Tapi, buku Animal Farm yang diterjemahkan dalam judul Binatangisme merupakan karya terbaiknya."

Dari segi isi buku, saya rasa terjemahan dari Mahbub Djunaidi atas Animal Farm sangatlah mengalir dan mudah dipahami. Buku yang pertama kali terbit tahun 1945 ini tampak lebih kekinian dan mudah dipahami. Terasa lebih muda dari umurnya.

Selipan parodi yang jenaka menjadi bumbu utama yang ada dalam buku ini. Karena kita semua mengetahui bahwa Mahbub kerap kali menjadi penerjemah yang tidak terpaku pada bahasa sumbernya saja. Penerjemah yang patuh biasanya biasanya sangat setia pada makna asli dan terbilang kaku. Namun dalam hal ini saya rasa Mahbub berhasil menerjemahkan Animal Farm menjadi suatu karya yang mengalir dan tetap kontekstual serta memberikan pengalaman seperti membaca buku berbahasa Indonesia asli.

Jika kamu penggemar buku satire, saya merekomendasikan buku ini untukmu. Jalan cerita yang unik dan tentu penuh plot twist di dalamnya. Saya sendiri tak menyangka buku ini memiliki akhir yang sangat berbeda dari dugaan saya. Sudah saya duga, ternyata salah dugaan saya. Mungkin kamu akan mendapatkan pengalaman yang sama. Untukmu yang sudah pernah membacanya, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya!

Untukmu yang sedang patah hati, mungkin buku ini bisa menjadi teman di hari-hari gelapmu. Nikmati saja cerita yang seakan dalam negeri dongeng ini. Kehidupan peternakan yang tak pernah terbayangkan dalam benakmu bisa saja sejenak mengobati hatimu yang sedang terluka itu. Yuk kamu bisa yuk!

Dari segi kertas, buku ini memakai kertas kuning. Kertas yang bagi saya sangat enak untuk dibaca. Tidak melelahkan sebagaimana ketika saya membaca kertas warna putih. Buku ini full tulisan. Tiada gambar sama sekali di dalamnya. Membebaskan kita untuk berimajinasi dengan liar dalam menggambarkan tokoh yang ada dalam buku ini.


Buku dengan jumlah total 163 halaman ini terbilang tipis. Kamu akan menemukan 10 Bab yang membawamu menuju dunia dongeng yang diciptakan George Orwell. Ketipisan dari buku ini memang menjadi suatu kekurangan bagi kamu yang mungkin kerap membaca novel maupun buku dengan halaman yang banyak. Buku ini sangat cocok untukmu yang suka membaca buku sambil lalu dan menjadikan membaca sebagai hiburan dan hobi saja. Cukup mantap untuk mengisi waktu luangmu.

Ada sedikit hal yang perlu saya soroti. Saya sedikit kurang terbiasa jika membaca buku dengan tampilan kalimat yang rata kiri (Align Left). Buku ini disusun dengan bentuk susunan kalimat yang disejajarkan kiri seperti itu. Pada awalnya saya merasa aneh dan kesulitan untuk menikmati buku ini. Karena buku yang kerap saya jumpai memiliki susunan kalimat rata kanan kiri (Justify) dan saya lebih menikmati susunan kalimat yang seperti itu. Bagaimana denganmu?

Dengan adanya kekurangan yang saya sampaikan di atas, bukan menjadi suatu alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa isi dari buku ini menjadi kurang menarik. Sama sekali tidak memengaruhi isi dari buku yang penuh dengan kejutan dan cukup menohok hati. Semoga untuk cetakan berikutnya, Penerbit Gading bisa memberikan tampilan yang lebih memberikan kenyamanan lagi untuk pembaca. Karena saya rasa, buku ini tidak akan berhenti di cetakan ketiga saja.

Buku ini cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan karya satire maupun sarkasme.
  • Kamu yang suka dengan buku politik dan segala hal di dalamnya.
  • Kamu yang sudah bosan dengan buku politik yang kaku dan terbilang kuno.
  • Kamu dengan kesibukan yang cukup padat. Karena kamu dapat menggunakan buku ini sebagai teman yang baik dikala jam istirahatmu. Buku ini terbilang tipis. Namun, tak cukup rasanya jika hanya menamatkan buku ini sekali saja.
  • Konten Kreator yang ingin menjadikan satire dan sarkasme sebagai tombak utamanya.
  • Pembaca pemula seperti saya.
Buku ini tidak begitu cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan buku nonfiksi.
  • Kamu yang suka dengan buku tebal. Karena buku ini teramat tipis dan jika kamu sudah terbiasa menamatkan bukumu yang tebal itu, membaca buku ini akan terasa kentang untukmu.
  • Kamu yang tidak suka memahami suatu kalimat secara mendalam.
  • Kamu yang lebih suka berimajinasi lewat gambar daripada tulisan. Sama sekali tiada gambar di dalam buku ini. Penuh tulisan.
Demikian sedikit review dari Pustaka Indo. Saya akui bahwa memang banyak sekali sisi subyektif yang saya tonjolkan, namun percayalah saya sudah berusaha untuk adil sejak dalam berpikir.

Semoga kamu suka dan mendapatkan informasi dari review yang saya sediakan di atas. Saya tidak akan memberi nilai pada sebuah karya karena semua orang berhak untuk memiliki pandangan yang berbeda. Toh, itu hanya sebatas kumpulan angka saja.

Untuk penutup, saya kutip sedikit kalimat dari akhir cerita buku ini.

"Kekuasaan membuat manusia buta-tuli dan pada tingkat yang lebih akut akan sulit membedakan mana yang manusia dan mana yang babi."

Saya doakan semoga di rak bukumu yang indah itu ada buku ini yang senantiasa terselip di antara buku-buku bagusmu yang kamu sayangi. Dan jika kamu ataupun saya diberikan suatu kesempatan untuk berkuasa, dapat menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Tetap menjadi manusia, tetaplah membaca dan panjang umur literasi Indonesia!

Sabtu, 15 Februari 2020

Resensi Buku Guillaume Musso - Call From an Angel



Identitas Buku 
Judul Resensi: Kebangkitan dan Tuntutan dari Masa Lalu 
Judul Buku: Call From an Angel 
Penulis: Guillaume Musso 
Penerjemah: Yudith Listiandri 
Penerbit: Spring 
Terbit: Oktober 2017 
Tebal: 432 hlm; 20 cm 
Harga: Rp 89.000,- 
ISBN: 978-602-6682-08-6 
Jenis Buku: Fiksi Dewasa 

Ulasan 
Ini adalah takdir, kelindan nasib yang aneh, yang memilih mendekatkan mereka ke saat-saat yang menentukan dalam hidup mereka. Panggilan malaikat, seperti yang dikatakan neneknya....” - hal. 294

Novel ini merupakan buah karya kesembilan dari penulis kelahiran Prancis, Guillaume Musso. Novel-novelnya yang telah diterbitkan di antaranya: Afterwards (2004), A Mix-Up in Heaven (2005), Will You Be There? (2006), The Girl on Paper (2010), Brooklyn Girl (2016), dan masih banyak lagi. Selain Call From an Angel, The Girl on Paper juga telah tersedia versi Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Spring. 

Menurut Wikipedia, Guillaume Musso merupakan penulis kelahiran 6 Juni 1974. Pada tahun 2004, ia meraih penghargaan Prancis untuk adaptasi novel terbaik untuk bioskop. Dan pada tahun 2005, ia meraih penghargaan Italia untuk novel romantis Scrivere per Amore, Verone

Kisah pada novel ini tidak sesederhana blurb yang tercetak di kover belakang. Seminggu sebelum Natal, di kafetaria Bandara Internasional JFK, secara tidak sengaja ponsel Jonathan dan Madeline tertukar. Mereka menyadarinya ketika telah sampai di kota tujuan masing-masing—Jonathan di San Francisco sementara Madeline di Paris. 

Mereka sepakat untuk saling mengembalikan ponsel melalui pos. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kantor pos tutup karena terjadi pemogokan pelayanan publik. Membuat Jonathan dan Madeline sepakat untuk tidak segera saling mengembalikan ponsel. 

Potongan-potongan rahasia yang Jonathan dan Madeline temukan mengantarkan mereka bertemu di New York. Memaksa mereka untuk menelusuri kasus Alice Dixon yang masih janggal dan alasan mengapa Francesca mengkhianati Jonathan. 

Kenyataan yang menampar, membuat Jonathan dan Madeline terlibat misi penyelamatan Alice, yang nyaris membunuh mereka berdua. 

Kisah dalam novel ini diulas melalui sudut pandang orang ketiga, didominasi oleh Jonathan dan Madeline meski tokoh lain juga diberi kesempatan untuk bercerita. Menggunakan alur maju-mundur, penulis benar-benar mendeskripsikan segala sesuatu di novel ini dengan detail, menunjukkan bahwa novel ini berdasarkan berbagai riset autentik. 

Kondisi lingkungan tempat tinggal dan penampilan para tokoh, cuaca, rute jalan kota, resep makanan, investigasi, adu tembak ... membuat novel ini kaya akan informasi dan pengetahuan yang dapat membangun keutuhan cerita, juga membawa pembaca hanyut dalam kisah Jonathan dan Madeline. 

Ditambah, munculnya benih-benih cinta di antara Jonathan dan Madeline, semakin mewarnai kisah dalam novel ini. Membaca novel ini, seakan-akan tengah menyaksikan sebuah film aksi dalam imajinasi. Secara fisik, tidak ada cacat berarti, baik kesalahan ketik maupun keutuhan halaman. 

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Meski mungkin tidak begitu penting, tetapi alangkah baiknya jika dibubuhkan motif penculikan Alice Dixon, juga bagaimana riwayat peralihan profesi Madeline. Dan, saya pribadi bertanya-tanya bagaimana bisa Danny Doyle lupa siapa buah hatinya. Dengan adanya tambahan informasi tersebut tentu akan lebih menambah keutuhan cerita. 

Meski adanya kekurangan, namun setiap karya tetap patut untuk dinikmati. Karena itu adalah bentuk penghargaan kecil atas jerih payah seniman yang menciptakan mereka. Begitu pula dengan novel ini. 

Dengan adanya adegan adu tembak dan sedikit kekerasan membuat novel ini lebih ditujukan untuk kalangan muda-dewasa. Karena sekali lagi, ini bukan novel dengan cerita ringan, melainkan penuh teka-teki dan misteri. 

Sekian resensi novel Call From an Angel karya Guillaume Musso Mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih sudah mampir. Nantikan resensi buku berikutnya.

__________
Sumber Gambar:
Carousell

Jumat, 14 Februari 2020

Resensi Buku Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako



Identitas Buku
Judul Resensi: Kegelapan di Balik Panggung Sandiwara
Judul Buku: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Terbit: Agustus 2015
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: 276 hlm: 13 x 14 cm
ISBN: 978-602-7742-31-4
Jenis Buku: Fiksi
Harga: Rp 56.000,-

Ulasan
“Kalau kau ingin menggerakkan seseorang sesuai dengan kehendakmu, genggamlah rahasianya....” 
– hal. 237

Akiyoshi Rikako merupakan penulis asal Jepang. Namanya terkenal di kalangan books lover Indonesia setelah novel Girls in the Dark di terbitkan dalam versi Indonesia oleh Penerbit Haru. Itu adalah pertama kalinya novel Akiyoshi hadir dalam versi bahasa Indonesia.

Dikutip dari website Penerbit Haru, Akiyoshi Rikako merupakan alumni Universitas Waseda, Fakultas Sastra. Ia pun mendapat gelar master dalam bidang layar lebar dan televisi dari Universitas Loloya, Marymount, Los Angeles. Pada tahun 2008, cerpennya yang berjudul 'Yuki no Hana' mendapatkan penghargaan Sastra Yahoo! JAPAN yang ketiga. Setahun kemudian ia debut dengan kumpulan cerpen berjudul 'Yuki no Hana'.

Kini novel-novelnya yang sudah dapat dinikmati oleh pembaca Indonesia di antaranya yaitu: Girls in the Dark (2015), The Dead Returns (2015), Holy Mother (2016), Scheduled Suicide Day (2017), Silence (2017), Absolute Justice (2018), dan Giselle yang akan terbit di tahun ini.

Novel ini dapat dikategorikan sebagai novel misteri dan semi-thriller. Mengisahkan tentang pengungkapan kematian Shiraishi Itsumi, ketua Klub Sastra di SMA Putri Santa Maria. Beberapa hari lalu, Itsumi ditemukan tewas di kebun sekolah dengan menggenggam sekuntum bunga lily.

Untuk mengenang kematian Itsumi, para anggota klub mengadakan pertemuan di malam hari, yang disebut yami nabe, yang dipimpin oleh Sumikawa Sayuri. Di pertemuan itu, dibacakan pula sebuah cerita tentang kematian Itsumi versi masing-masing anggota untuk mengungkap siapa dan bagaimana Itsumi mati.

Dan di pertemuan itu lah, nasib para anggota klub berubah keesokan harinya. Pada tahun 2017, novel ini mendapat adaptasi film dengan judul yang sama, kini Sobat bisa menontonnya di beberapa situs download film.

Penyajian kisah dalam novel ini unik. Sebenarnya setting cerita di novel ini hanya terjadi pada satu waktu dan tempat, yaitu malam hari di ruang klub sastra. Yang menjadi terasa berbeda adalah karena cerita yang dibawakan oleh masing-masing anggota klub menjadi bab dan kisah baru yang segar.

Pembaca akan merasakan nuansa mewah dan gaya gotik yang kental di sepanjang cerita, karena pengaruh kekuasaan Itsumi. Penokohan dalam novel ini pun cukup kuat dan tidak terduga: protagonis yang tiba-tiba menjadi antagonis, para figuran juga berperan penting mendukung dan menghidupkan suasana Itsumi si tokoh utama. Dan bagi pecinta cerita dengan plot twist, novel ini bisa masuk dalam list.

Untuk ending mungkin akan membingungkan bila tidak benar-benar dibaca dan dipahami, antara Itsumi sudah mati atau belum. Menurut mimin, alurnya cukup lambat dan monoton untuk sampai klimaks, mungkin karena diawali oleh pembacaan cerita dari anggota klub.

Dan sebetulnya kunci kematian Itsumi bukan pada cerita-cerita yang dibawakan anggota klub, ada cerita lagi yang menungkapkan kematian Itsumi dan kemudian menjadi penutup novel ini.

Secara keseluruhan, novel ini patut untuk dimasukan list bacaan di akhir pekan. Namun karena novel ini terbit sudah lama, keberadaannya di toko buku dan online shop mungkin sudah tidak banyak ditemukan.

Namun, Sobat bisa menanyakannya langsung ke Penerbit Haru karena biasanya masih disisakan di gudang penerbit.

Sekian resensi novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako. Mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih sudah mampir. Nantikan resensi buku berikutnya.

Kamis, 13 Februari 2020

Resensi Buku The Dead Returns - Akiyoshi Rikako



Identitas Novel
Judul Resensi: Hidup yang Tertukar
Judul Buku: The Dead Returns
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Terbit: Agustus 2015
Tebal: 252 hlm; 19 cm
ISBN: 978- 602-7742-57-4
Jenis Buku: Fiksi
Harga: Rp 58.000,-

Ulasan
“Saat merasa bahwa aku semakin dekat dengan penjahatnya, saat itulah aku harus lebih tenang dan tidak buru-buru; harus berjalan dengan hati-hati.” 
–hal. 159

Mengutip dari Resensi Girls in the Dark, Akiyoshi Rikako merupakan penulis asal Jepang. Namanya terkenal di kalangan books lover Indonesia setelah novel Girls in the Dark di terbitkan dalam versi Indonesia oleh Penerbit Haru. 

Itu adalah pertama kalinya novel Akiyoshi hadir dalam versi bahasa Indonesia. Dikutip dari website Penerbit Haru, Akiyoshi Rikako merupakan alumni Universitas Waseda, Fakultas Sastra. Ia pun mendapat gelar master dalam bidang layar lebar dan televisi dari Universitas Loloya, Marymount, Los Angeles. 

Pada tahun 2008, cerpennya yang berjudul 'Yuki no Hana' mendapatkan penghargaan Sastra Yahoo! JAPAN yang ketiga. Setahun kemudian ia debut dengan kumpulan cerpen berjudul 'Yuki no Hana'.

Kini novel-novelnya yang sudah dapat dinikmati oleh pembaca Indonesia di antaranya yaitu: Girls in the Dark (2015), The Dead Returns (2015), Holy Mother (2016), Scheduled Suicide Day (2017), Silence (2017), Absolute Justice (2018), dan Giselle yang akan terbit di tahun ini.

Novel kedua Akiyoshi Rikako ini (lagi-lagi) ber-genre misteri. Mengambil latar adegan di SMA Higashi, Jepang, novel dengan bumbu fantasi dan slice of life ini mengisahkan Koyama Nobuo, salah satu murid laki-laki kelas 2-A dan merupakan seorang otaku kereta api, yang pada suatu malam didorong jatuh dari tebing oleh seseoang tak dikenal. 

Ia tidak mati, namun saat sadar, ia terkejut menemukan jiwanya telah berganti ke tubuh pemuda tampan yang kemudian diketahui bernama Takahashi Shinji, murid popular asal SMA Seiran. Lalu, dengan tubuh barunya itu, Koyama―yang kemudian hidup dengan nama Takahashi Shinji―bertekad mencari pelaku yang mendorong ia di tebing. Tersangkanya, teman sekelas. Total, 35 orang.

Untuk menyesuaikan diri dan melancarkan aksinya, Koyama memutuskan pindah sekolah dari SMA Seiran ke SMA Higashi. Dengan tubuh barunya, ia lebih leluasa untuk mencurigai dan diam-diam menyelidiki satu per satu teman sekelasnya. 

Mulai dari ketua kelas, teman dekatnya yang juga sesama otaku kereta api, teman jauhnya, wali kelas, sampai ibunya. Koyama nyaris putus asa dan tidak memercayai siapa pun saat mendapati semua orang yang ia curigai berpotensi sebagai pelaku yag mendorongnya di tebing.

Semua novel Akiyoshi Rikako yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Haru akrab dengan genre misteri atau semi-thriller. Ditilik dari teknik penulisan, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Koyama Nobuo. 

Alurnya maju, namun beberapa ada kilas balik ketika Koyama mengingat siapa sebenarnya gadis bernama Maruyama-san. Typo hampir jarang ditemui dan bahasa penerjemahannya pun tidak memusingkan, seperti novel terjemahan pada umumnya, meski mungkin para menikmat teenlit dengan gaya bahasa nyentrik akan kagok.

Menurut mimin pribadi, mimin lebih menikmati cara novel ini disajikan (seperti novel pada umumnya) daripada cara penyajian buku Akiyoshi yang pertama, Girls in the Dark. Meski terdapat unsur plot twist pada ending-nya, namun rasa-rasanya tidak se-jerky Girls in the Dark. 

Karena, yeah, memang beberapa pembaca pasti ada yang bisa menebaknya, termasuk mimin. Meski begitu, mengenai siapa Maruyama-san sebenarnya cukup membuat mimin melongo dan novel ini dapat direkomendasikan untuk bacaan akhir pekan bila ingin berganti suasana latar tempat: Jepang.

Sekian resensi novel Call From an Angel karya Guillaume Musso Mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih sudah mampir. Nantikan resensi buku berikutnya. 


_________
Sumber gambar:
Carousell

Resensi Buku Winna Efendi - Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu



Identitas Buku
Judul Resensi: Buatlah Pembaca Terkesan dengan Novelmu
Judul Buku: Draf 1: Taktik Menulis  Fiksi Pertamamu
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 346 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 979-780-595-6
Jenis Buku: Nonfiksi
Harga: Rp 49.000,-

Ulasan
Buku ini merupakan buku non-fiksi pertama karya Winna Efendi. Selain buku ini, ia juga menulis novel, di antaranya: Refrain (2009), Ai (2009), Remember When (2011), Tomodachi (2014), Girl Meets Boy (2015), Someday (2017), yang beberapa di antaranya sudah difilmkan. Winna Efendi adalah salah satu penulis berkewarganegaraan Indonesia.

Lahir pada tahun 1986. Novelnya Ai menjadi kandidat short list Khatulistiwa Literary Award 2009 kategori Penulis Muda Berbakat, Refrain masuk dalam short list Fiksi Favorit Anugerah Pembaca Indonesia 2009, sedangkan Someday masuk dalam Buku Terbaik 2017 versi Google Play.

Selain membahas elemen-elemen yang ada pada novel dan menulis secara umum, buku ini juga memuat seputar bagaimana cara menulis dan menerbitkan novel menurut pengalaman Winna Efendi sebagai penulis produktif.

Mulai dari menyusun kerangka dan mengembangkan ide, lalu mulai menulis, melakukan self editing, mengirim naskah novel ke penerbit, sampai bagaimana cara menghadapi penolakan naskah dan writer’s block. Pada bab elemen-elemen novel, Winna Efendi membubuhkan writer’s checklist berupa pertanyaan yang harus dijawab penulis terkait unsur-unsur intrinsik cerita yang telah dibuat. Tentunya poin itu sangat membantu dalam mengoreksi keutuhan cerita dan menghindari adanya plot hole.

Selain fisik buku yang mendekati sempurna (jenis tulisan dan jenis kertas yang nyaman di mata, serta adanya ilustrasi, kutipan motivasi, dan minimnya kesalahan ketik), isi buku ini tergolong lengkap untuk disebut sebagai ringkasan teori proses menulis fiksi.

Dan tentunya dapat membantu para penulis pemula maupun yang telah menyandang gelar ‘Penulis Bestseller’ dalam menciptakan novel berkualitas. Bahasa yang digunakannya pun mengalir, lugas, bersahabat, tidak begitu formal, dan jauh dari kesan menggurui. Yang paling utama adalah isinya, yang per topiknya diulas sedetail mungkin.

Seperti, bagaimana membuat latar tempat yang nyata, menghidupkan tokoh yang dapat membekas kuat diingatan pembaca, penggunaan dialog yang padat dan berguna, dan disertakan pula contoh plot dari novel Refrain.

Secara fisik dan non-fisik, buku ini minim kekurangan. Namun, alangkah baiknya bila penggunaan Bahasa Inggris diminimalisir, khususnya untuk kutipan-kutipan dan kata-kata motivasi. Karena tidak semua pembaca memahami Bahasa Inggris dengan baik.

Selain itu, penggunaan Bahasa Indonesia untuk kutipan dan kata-kata motivasi akan lebih menyentuh pembaca, karena dapat langsung diketahui tanpa perlu menerjemahkannya terlebih dulu.

Adanya kekurangan, buku ini tidak lantas menjadi kurang atau tidak layak untuk dibaca. Justru, dengan melihat kelebihan buku ini, menjadikannya patut untuk dipelajari dan diterapkan ilmunya karena sebagaimana diketahui Winna Efendi adalah salah satu penulis novel (khususnya genre remaja) yang kualitas bukunya tidak perlu diragukan lagi.

Jadi, bukanlah sebuah kesia-siaan dan malah merupakan pilihan tepat untuk menyelami buku ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan mengenai bagaimana membuat cerita fiksi yang baik.

Sekian resensi buku Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu karya Winna Efendi. Mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih sudah mampir. Nantikan resensi buku berikutnya.

_______________
sumber gambar: dok. pribadi

Rabu, 12 Februari 2020

Resensi Buku Para Penggerak Revolusi - L. Santoso A. Z.




Identitas Buku 
Judul Resensi: Mengenal Arus Sejarah dan Pemikiran Tokoh Revolusi Dunia 
Judul Buku: Para Penggerak Revolusi 
Penulis: L. Santoso A. Z. 
Penerbit: Laksana 
Terbit: 2017 
Tebal: 528 hlm; 14 x 20 cm 
ISBN: 978-602-407-124-0 
Jenis Buku: Nonfiksi, Sospol 
Harga: Rp 76.000,- 

Ulasan 

"Langit tidak menciptakan seseorang dengan harkat di atas atau di bawah orang lainnya.
-Fukuzawa Yukichi-
(Kutipan Isi Buku di Halaman: 192) 

Banyak buku yang menceritakan tentang pergerakan revolusi di dunia, dan buku ini merupakan salah satunya. Bagi saya, L. Santoso A. Z. sudah sangat berjasa karena telah menulis buku dalam Bahasa Indonesia yang sangat dibutuhkan oleh pecinta sejarah, terutama untuk kaum millenial saat ini. 

Penulis muda asal Lampung ini cukup lihai merangkai kata dengan baik untuk menyampaikan isi buku yang tergolong berat namun dengan cara yang menyenangkan. Selain buku ini, ada beberapa buku yang telah ditulis, di antaranya ialah Jagalah Lisanmu (PIM, 2008), Kebangkitan Indonesia (Iboekoe, 2008), Menuju Indonesia Masa Depan (LeSAN, 2008), Buku Pintar Kenegaraan (Ekspresi, 2010), Hukum Perjanjian dan Kontrak (Pinus, 2010), Sutan Sjahrir (Palapa, 2014), Jenderal-Jenderal yang Mempengaruhi Sejarah Dunia (Palapa, 2014), dan masih banyak lagi. 

Untuk riwayat pendidikan dari penulis, cukup menarik. Diawali dengan menyelesaikan pendidikan di madrasah ibtidaiyah hingga madrasah aliyah di kota kelahirannya. Ia lalu berhijrah ke Yogyakarta tahun 2005 untuk studi di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Yogyakarta dan lulus pada 2009. 

Tahun 2010, ia melanjutkan studi Hukum pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum UII, Yogyakarta dan lulus tahun 2012. Saat ini (ketika buku ini terbit), ia sedang menempuh Program Pascasarjana UGM Yogyakarta. 

Aktivitas kepenulisan ia tekuni sejak remaja hingga berbagai tulisannya menghiasa media massa. Pada tahun 2008, ia bersama rekan satu timnya melakukan sebuah penulisan proyek sejarah, yakni Kronik Seabad Kebangkitan Nasional. Dengan adanya hal tersebut tak perlu diragukan lagi untuk karyanya mengenai sejarah, bukan? 

Jika kita lihat dari isi buku, penulis telah berhasil menyampaikan pesan kepada pembaca dengan baik. Pembaca tidak dibuat jenuh dengan terlalu banyaknya teori tentang revolusi. Tapi, kita dibawa oleh penulis seolah merasakan hidup di zaman para penggerak revolusi. 

Tak luput, di setiap permulaan bab kita akan disuguhi kutipan-kutipan menyentuh maupun menggelorakan semangat dari tokoh revolusi yang akan dibahas dalam bab tersebut. Lengkap sudah, penulis berhasil membangun romantika pergerakan kepada para pembacanya. 

Bagi sobat pancarobaku yang sedang memulai untuk menjadikan membaca sebagai hobi baru, buku ini patut untuk dicantumkan dalam salah satu list buku yang perlu untuk sobat baca. Terutama bagi sobat yang suka akan buku sejarah, buku pergerakan maupun buku tentang sosial politik. 

Walaupun buku ini termasuk buku yang cukup tebal, namun saya kira sobat akan membaca buku ini sampai habis tanpa merasa jenuh. Karena di setiap babnya, terdapat latar belakang dan pesan yang berbeda-beda. 

Untuk bagian fisik buku, saya rasa sudah mendekati sempurna. Terutama untuk cover buku yang sangat elegan dan menarik. Selain dilengkapi dengan latar belakang lukisan tentang kisah Revolusi di Perancis, bagian belakang cover buku juga menampilkan kutipan-kutipan para tokoh yang akan dibahas dalam buku tersebut. 

Menambah rasa penasaran pembaca tentunya. Kertas yang digunakan buku ini ialah kertas kuning yang memberikan keyamanan bagi para pembacanya. Untuk bagian isinya, alur cerita yang dibangun sangat baik dan kami merekomendasikan buku ini untuk dibaca hingga tamat. Kita dapat mempelajari berbagai macam sejarah dunia lewat buku ini. 

Tak lupa, ada satu bab yang membahas kedekatan antara tokoh bangsa kita dengan pergerakan dari bangsa lain, loh. Sobat tentu penasaran, bukan? Itulah sebabnya kami menyarankan sobat untuk membaca buku ini sampai habis, karena banyak kejutan yang tak terduga di baliknya. 

Secara fisik dan non-fisik, buku ini minim kekurangan. Kesalahan penulisan kata pun jarang ditemukan. Namun, ada beberapa kalimat dalam halaman tertentu (bukan dalam jumlah yang banyak) yang tidak ada spasinya. 

Untung saja masih bisa dimengerti maknanya. Selain itu, alangkah baiknya bila pembahasan dari tiap tokoh dilengkapi lagi. Ada tokoh yang diulas sangat dalam namun di lain sisi ada tokoh yang menurut saya masih nanggung pembahasannya. 

Sehingga, terkadang saya harus mencari sendiri di media online atau sumber buku lainnya terkait dengan tokoh tersebut. Namun, setelah saya pahami, mungkin penulis tidak ingin pembacanya dibuat jenuh dengan pembahasan tokoh yang itu-itu saja. Terlalu dalamnya pembahasan dari tiap tokoh tentu akan menambah tebalnya buku ini. 

Dan saya rasa penulis ingin kita melengkapi tulisannya dengan persepsi maupun pencarian kita sendiri atas tokoh yang dijelaskan dalam bukunya tersebut. Selebihnya, saya rasa buku ini sudah layak untuk dibaca siapapun yang ingin mengenal lebih dalam akan makna revolusi dan perkembangannya di dunia. 

Dengan adanya kekurangan dalam buku ini, tidak lantas menjadi pengaruh berkurangnya kelayakan buku ini untuk dibaca sobat sekalian. Justru, dengan melihat kelebihan buku ini, menjadikannya patut untuk dipelajari dan diterapkan ilmunya. Dapat saya simpulkan, buku ini adalah buku yang tepat bagi sobat terutama yang memang sedang hobi menikmati buku-buku sosial politik. 

Sekian resensi buku Para Penggerak Revolusi karya L. Santoso A. Z. Mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih sudah mampir. Nantikan resensi buku berikutnya. 

____________________
sumber gambar: 
dok. pribadi