Sabtu, 29 Agustus 2020

Celoteh - Cinta dan Patah Hati

 

(Sumber Foto: Piqsels)

Banyak orang mendefinisikan cinta, tapi arti cinta tetap kembali kepada masing-masing orang. Tidak ada yang pernah bersepakat tentang definisi cinta, bahkan ada yang bilang Cinta tidak bisa didefinisikan. Tapi banyak orang telah merasakannya. 

Barangkali seluruh orang yang ada di dunia ini pernah merasakan cinta atau setidak-tidakya telah berhubungan dengan cinta. Banyak unsur dalam cinta, juga banyak efek yang ditimbulkannya. Dari sekian banyak itu salah satunya pengharapan. Cinta menimbulkan harapan dan menghasilkan energi yang besar.

Tapi cinta juga bukan tanpa risiko, salah satu risiko dalam cinta adalah patah hati. Berbicara patah hati, semua orang juga pasti telah merasakan patah hati. Sama dengan cinta, pasti semua orang pernah merasakannya. Dalam patah hati juga pasti ada patah hati terhebat yang mengubah pandangan orang tentang cinta, kata Raditya Dika begitu.

Ada begitu banyak cerita patah hati di dunia ini. Jika suatu harapan dapat menimbulkan energi yang besar, patah hati juga dapat menghasilkan energi yang tak kalah besar. Lantas, muncul sebuah pertanyaan, apakah patah hati itu menumbuhkan atau malah menghancurkan?

Satu hal yang pasti, setiap patah hati pasti menyakitkan. Tapi, meskipun begitu banyak cerita patah hati di dunia mengubah jalannya sejarah. Banyak orang besar tumbuh karena patah hati. Patah hati yang mengubah sejarah. Katakanlah kisah Soekarno, karena patah hatinya dia tumbuh menjadi orang besar, orator, diplomat, Presiden. Soekarno yang patah hati karena wanita. 

Moh Hatta yang patah hati karena keadaan bersumpah tidak akan menikah sampai negara tempat ia dilahirkan merdeka. Moh Hatta menikah di umur lebih dari 40 tahun, tentu untuk ukuran orang Indonesia sudah terlalu tua.

Dalam setiap kisah cinta, tak ayal kita akan menemui kisah patah hati di dalamnya. Entah itu sebagai intro maupun outro yang mengalun dan menyatu sesuai irama pembuatnya. Apakah ini sebagai ironi?



NK
Blora, 4 Juli 2020
__________________


Ini adalah hasil karya sobat pustaka. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!

Jumat, 28 Agustus 2020

Puisi - Nada


(Sumber Foto: ClipartEmail)

Nada

Namamu alunan cinta
Deru sendu kau ubahnya jadi gembira
Dibuatnya bunga hati terus bertala-tala

Namamu ada dimana-mana
Menyentuh apa-apa yang haus akan rasa
Dilaraskannya dengan kasih ataupun air mata

Namamu yang dapat bicara
Menyuarakan pilu, cumbu, maupun canda
Seolah membius sehingga semua ikut merasa

Namamu tanamkan percaya
Bahwasanya ada penawar dari setiap lara
Pula adanya penambah rasa dari setiap tawa


Rachmat A.P.
Cilacap, 20 Juli 2020

________________________


Ini adalah hasil karya sobat pustaka. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!

Kamis, 27 Agustus 2020

Puisi - Kawanku Nan Jauh di Sana

(Sumber Foto: IDNTimes)
(Sumber Foto: IDNTimes)

 
Kawanku Nan Jauh di Sana

Berlariku bukan berarti takut
Menjauhku bukan berarti pengecut

Kupikir jarak diperlukan demi terlihatnya pola
Pola kegembiraan diantara satu atau keduanya

Karena pola-pola itu semakin tersamarkan kepentingan
Yang selalu hadir terdesak keinginan

Mungkin menurutmu ini biasa saja
Tapi bagiku bagai tawa tanpa canda

Kuharap suatu saat kau kan rindu
Atau sekadar ingat dengan lelucon kita dulu

Sadarlah kawan kita tak sedang baik-baik saja
Jarak yang kujaga semoga menjadikan kita terus bersama


Rachmat Agung P.
Cilacap, 3 Agustus 2020

________________________


Ini adalah hasil karya sobat pustaka. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!

Jumat, 26 Juni 2020

Puisi - Ramai

(Sumber Foto: Kompas)

Ramai

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya dekat jadi tersendiri
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya segan tuk interaksi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya kabar tak lagi wigati
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya cengkrama picu keki

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya mati di hati
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya pikir tak fungsi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya ladang khairat sepi
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya tak ingin berbagi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya tak syukur rizki
Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya munajatpun tak berisi

Benarkah ramai ini?
Jikalau nyatanya Tuhan seperti tak sedekat nadi


Rachmat Agung P.
Semarang, 22 Juni 2020

________________________

"Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian"

-Emha Ainun Nadjib-


Ini adalah hasil karya sobat pustaka. Jika kamu memiliki karya yang ingin kami abadikan, silakan hubungi kami melalui formulir yang sudah kami sediakan di kolom contact. Terima kasih. Panjang umur literasi!


Senin, 22 Juni 2020

Sabtu, 23 Mei 2020

Puisi - Resolusi Buruh Tani

Sumber Foto: Viva.com


Resolusi Buruh Tani

Pernahkah Tuan merasa?
Jika terompet yang saling bersautan
Serta lagu yang tak hentinya Tuan dendangkan
Di telingaku terdengar seakan genderang perang

Ya, sudah waktunya untuk bertempur
Penuhi tuntutan hingga keringat penuh lumpur
Untuk si kecil yang merengek minta bubur
Tak jarang pula, bini  malah minta kabur

Begitulah nasib kami
Si buruh yang melekat pada kaum tani
Sungguh tiada banyak resolusi yang kami miliki
Hanya ingin, segala kebutuhan tercukupi

Tuan, kuharap engkau maklum dengan tulisan ini
Kami bukan pujangga maupun sekelas menteri
Yang lihai menggunakan bahasa tinggi
Bahkan tak terjangkau walau sudah kami daki

Oh ya, jika Tuan bersedia
Titipkan salam ini untuk Bapak Ibu di singgasana
Tak cukupkah mulut manis itu terus berbusa?
Padahal banyak janji yang kerap sekadar wacana



Ruli Rukmana Sakti
Semarang, 4 Januari 2019

_______________________
Puisi ini sebenarnya saya tulis di tiga kota yaitu Semarang, Solo dan Yogyakarta. Dikarenakan penulisan akhir berada di Semarang, maka saya putuskan untuk mencantumkan kota Semarang di dalamnya. Puisi ini juga pernah dimuat oleh di IDNTimes dengan link berikut ini: Resolusi Buruh Tani.

Mari membaca, mari merasa dan mari mencoba. Panjang umur literasi!

Jumat, 22 Mei 2020

Celoteh - Mawar Hitam Keperakan

Sumber Foto: pxhere.com


Kepulan asap dari kopi dan cerutu menjadi suatu paduan yang indah. Seindah perkenalanku dengan dirimu, kasih.

"Kalau bisa, menulislah dalam keadaan netral. Supaya tulisanmu tak campur aduk."

Temanku yang satu ini memang lihai untuk urusan hati. Namun, bagaimana bisa sebuah tulisan seperti ini hadir dengan suatu kenetralan?

Kopi akan nikmat jika ampasnya sudah mengendap. Sama halnya dengan mencari ilmu yang perlu adanya masa pengendapan. Tapi, apakah mungkin rasa ini dapat diendapkan terlebih dahulu? Selera humormu tinggi, kawan.

Aku sedang tidak netral. Bagaimana bisa netral jika mawarku memiliki warna baru? Dia tak lagi merah melainkan hitam pekat yang memancarkan warna keperakan. Memiliki sukma layaknya insan. Berpendar elok penuh nada dan warna.

Mengapa bisa begini? Mungkin karena bacaanku seminggu ini terkait dengan Budaya Skandinavia. Makianku sepanjang hari atas indahnya wanita perak Skandinavia merasuk kedalamnya. Entah mengapa aku suka perak. Bukan emas maupun perunggu. Perak cukup bagiku. 

Semua hanya perkara satu arah. Tak peduli esok mawarku akan menusukku dengan durinya, atau mungkin memberikan hadiah berupa semerbak harumnya. Aku hanya ingin tetap bisa melihatnya.

Membersamai dikala dia tumbuh dan meranum. Memandang nanar diluar kotak kaca ajaib yang kukenakan padanya dulu. Aku hanya ingin bersua. Tanpa berharap dapat merasa.

Mawarku akan terus tumbuh dan berevolusi. Ya, revolusi mungkin kata yang tepat. Karena kata reformasi nampaknya sudah tak ada marwahnya lagi.



Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 22 Mei 2020