Minggu, 09 Februari 2020

Resensi Buku Bung Karno - Islam Sontoloyo



Identitas Buku 

Judul Resensi: Islam (masih) Sontoloyo?

Judul Buku: Islam Sontoloyo
Penulis: Ir. Soekarno
Penerbit: Sega Arsy
Terbit: Pertama, September 2009
Tebal: 182 hlm.
ISBN: 978-979-98365-27-5
Jenis Buku: Nonfiksi, Sospol 
Harga: Rp 25.000,- 

Ulasan 



Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan Bung Karno beserta dengan pemikirannya tentang Islam yang dianggap “ekstrem” pada masa itu. Pikiran-pikirannya tentang pembaruan Islam ikut mewarnai perkembangan pemikiran Islam yang ada di Indonesia. Berkat tulisan-tulisannya ini pula, Bung Karno berhasil menggemparkan dunia Islam ketika itu. 

Tidak berhenti sampai disitu, bahkan telah menimbulkan polemik dengan tokoh-tokoh Islam yang lain. Terutama dengan Mohammad Natsir yang berlangsung sepanjang tahun 1930-1935. Polemik tersebut hingga kini diakui memiliki bobot yang luar biasa dan nyaris belum ada tandingannya dalam sejarah polemik di Indonesia.

Di awal buku, kita langsung disuguhi dengan surat-surat dari Bung Karno untuk rekannya di Bandung yaitu Tuan A. Hassan yang merupakan salah satu tokoh Persatuan Islam kala itu. Surat-surat itu membahas banyak hal yang terjadi di Endeh (tempat Bung Karno dibuang kala itu), dan berbagai pikiran serta ketertarikannya tentang Islam di dunia maupun dalam negeri. 

Hal ini ditunjukkan dengan tak hentinya Bung Karno meminta buku-buku Islam kepada Tuan A. Hassan agar segala rasa penasarannya terobati. Dengan surat-surat itu pula kita diberi gambaran akan keadaan Islam yang sangat miris kala itu. Tentang Islam yang sudah mulai hilang apinya dan seakan hanya mengambil abunya saja. 

Islam yang sudah lupa akan nilai yang terkandung di dalamnya dan malah mengagungkan hal yang sebenarnya tak patut untuk diagungkan. Ya, dengan membaca surat-surat ini, seketika kita umat muslim merasa tertampar dan mengingat kembali bahwa masih banyak umat muslim yang berlaku demikian.

Dalam bab-bab berikutnya, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari pemikiran Bung Karno. Walau banyak yang mengatakan beliau terlalu sekuler dalam berpikir, namun itulah yang menjadi hal menarik untuk diselami. Mengapa beliau berpikir seperti itu? 

Tentu itu semua memiliki sebab yang tidak sepele, bukan? Bab yang tak kalah menarik adalah ketika Bung Karno membahas tentang ketidaksetujuannya akan adanya tabir. Terlebih dalam sebuah rapat. Hal ini pula yang membuat dirinya sempat bersitegang dengan Muhammadiyah kala itu.

Ada juga bab yang membahas tentang apa sebab Turki memisahkan agama dari negara? Kita dibawa terbang tinggi dalam bab ini. Melihat beberapa negara yang mayoritas muslim dan menelisik jalannya negara tersebut. Ketika membahas sekulerisasi yang ada di Turki tersebut, beserta dengan segala argumen yang diutarakan oleh Bung Karno, seketika itu pula saya merasa hal ini masih relevan dengan apa yang kita alami di tahun 2019 ini. Bahkan menurut saya sangat relevan. 

Dengan adanya pemilu di tahun ini seakan isu SARA bukanlah isu yang haram untuk disentuh. Dan argumen yang diberikan oleh Bung Karno yang beliau tulis sekitar 79 tahun lalu seolah menjadi de javu. Masyarakat onta dan masyarakat kapal udara mungkin contoh konkretnya.

Buku ini benar-benar membawa kita menyelami pemikiran Bung Karno. Kelebihan lain dari buku ini bagi saya adalah penataan bab yang terbilang sangat sempurna. Banyak gong yang membuat pembaca ketika akan merasa lelah (terbilang buku bacaan yang perlu waktu untuk mendalami) seketika menjadi semangat kembali dengan gong yang berbunyi di tempat yang terduga. Bentuk fisik buku yang tidak pada umumnya pun menarik. 

Buku yang seolah berbentuk kotak dan tidak terlalu besar membuat pembaca mudah untuk membawa buku ini kemana saja. Hal yang paling penting dari itu semua, tentu isi dari buku ini. Sangat membuka mata dan pikiran kita tentang Islam yang mungkin selama ini tidak kita lihat dari sisi yang dilihat oleh Bung Karno. Itu pula yang membuat saya membaca buku ini berulang kali tentunya.

Secara fisik dan non-fisik, buku ini minim kekurangan. Namun, alangkah baiknya bila ada footnote yang berisi tentang penjelasan makna dari kalimat-kalimat Berbahasa Belanda yang cukup banyak dalam buku ini. Karena tidak semua pembaca memahami Bahasa Belanda dengan baik. Selain itu, masih terdapat beberapa salah ketik dalam buku ini. Namun untungnya masih dapat dipahami oleh pembaca secara sekilas. 

Adanya kekurangan, buku ini tidak lantas menjadi kurang atau tidak layak untuk dibaca. Justru, dengan melihat kelebihan buku ini, menjadikannya patut untuk dipelajari dan diterapkan ilmunya. Kita akan dibawa untuk memahami Islam dari sudut yang tidak biasa. Bukankah itu suatu hal yang istimewa? Jadi, bukanlah sebuah kesia-siaan dan malah merupakan pilihan tepat untuk menyelami buku ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan mengenai Islam dan seluk-beluknya. Selamat mengkaji!

________________
sumber gambar: dok. pribadi

0 komentar

Posting Komentar