Minggu, 16 Februari 2020

Review Buku Animal Farm (Binatangisme) - George Orwell



Identitas Buku
Judul Buku: Animal Farm
Judul Buku Terjemahan: Binatangisme
Penulis: George Orwell
Penerjemah H. Mahbub Djunaidi
Penerbit: Penerbit Gading
Terbit: Cetakan Ketiga, Mei 2019
Tebal: 10 + 153 hlm. (13 cm x 19 cm)
ISBN: 978-602-0809-31-1
Jenis Buku: Satire
Harga:  45.000,-

Ulasan
Buku dengan penuh satire mungkin jarang kita temui. George Orwell sudah lihai dalam membuat buku semacam ini sedari dulu. Dan kamu akan menemukan gudangnya penulisan yang membawa pesan tersembunyi di dalam karya-karyanya.

Di dunia peryoutuban mungkin kamu menemukan MLI dengan dua pilar utamanya Coki dan Muslim yang dibalut dengan Debat Kusir membawakan beberapa joke yang penuh akan satire maupun sarkasme. Realita yang mereka bawakan kerap kali menyentil kita dengan segala hal yang kita lakukan hingga kini. Namun, pernahkah kamu membaca sebuah kisah dari kumpulan hewan yang membalut pesan tentang manusia dan segala keserakahannya?

Buku ini akan mudah kamu temui. Mulai dari yang bajakan hingga yang asli. Mulai dari buku terjemahan hingga buku asli Animal Farm dalam bahasa asing. Banyak toko online maupun offline yang menyediakannya. Jadi, kamu tidak perlu kawatir untuk kehabisan stok saat hendak membelinya.

Buku ini saya beli di Jogja dengan harga Rp. 25.000,- di bazar buku. Namun, harga asli di beberapa toko sekitar Rp. 45.000,- Bagi kamu yang suka membaca buku, tentu bukan menjadi suatu masalah perihal harga ini. Kunjungi bazar buku, kamu bisa mendapatkan harga yang lebih miring tentunya.

Dari segi cover buku, minimalis dan elegan. Saya suka dengan covernya. Gambar babi yang sedang menunggangi anjing lengkap dengan pakaian dan cambuknya tentu akan membuat penasaran pembaca tentang isi buku ini. Dapat saya katakan, cover ini sudah cukup untuk menggambarkan keseluruhan dari isi buku. Babi lah kuncinya. Memang babi. Ya mau apa lagi? Tenang, saya tak akan memberikan spoiler untukmu sobat.

Penerjemahan Animal Farm menjadi Binatangisme pun saya rasa merupakan sebuah ide yang sangat cerdas. Selain menambah rasa penasaran pembaca, binatangisme lebih cocok untuk menggambarkan isi buku ini daripada "Peternakan" yang merupakan arti langsung dari Animal Farm itu sendiri.



Di bagian belakang buku, tersemat Blurb yang menuliskan:

"Orang mengatakan, Bernard Shaw menempati posisi tertinggi penulis satire Inggris. Tapi, George Orwell tampaknya sudah mampu mengunggulinya. Kisah pergulatan dengan segala tipu daya memegang tampuk kekuasaan di sebuah peternakan binatang dengan jelas merupakan sindiran tajam namun jenaka bagi umat manusia.

Dengan bakat sastra yang ada padanya, George Orwell tidak meneruskan studinya di Oxford atau Cambridge seperti umumnya dilakukan orang-orang berbakat di Inggris. George Orwell memilih jadi politisi di Birma!

Bukunya Tahun 1984 memang buku yang membuat George Orwell menjulang tinggi namanya ke langit. Tapi, buku Animal Farm yang diterjemahkan dalam judul Binatangisme merupakan karya terbaiknya."

Dari segi isi buku, saya rasa terjemahan dari Mahbub Djunaidi atas Animal Farm sangatlah mengalir dan mudah dipahami. Buku yang pertama kali terbit tahun 1945 ini tampak lebih kekinian dan mudah dipahami. Terasa lebih muda dari umurnya.

Selipan parodi yang jenaka menjadi bumbu utama yang ada dalam buku ini. Karena kita semua mengetahui bahwa Mahbub kerap kali menjadi penerjemah yang tidak terpaku pada bahasa sumbernya saja. Penerjemah yang patuh biasanya biasanya sangat setia pada makna asli dan terbilang kaku. Namun dalam hal ini saya rasa Mahbub berhasil menerjemahkan Animal Farm menjadi suatu karya yang mengalir dan tetap kontekstual serta memberikan pengalaman seperti membaca buku berbahasa Indonesia asli.

Jika kamu penggemar buku satire, saya merekomendasikan buku ini untukmu. Jalan cerita yang unik dan tentu penuh plot twist di dalamnya. Saya sendiri tak menyangka buku ini memiliki akhir yang sangat berbeda dari dugaan saya. Sudah saya duga, ternyata salah dugaan saya. Mungkin kamu akan mendapatkan pengalaman yang sama. Untukmu yang sudah pernah membacanya, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya!

Untukmu yang sedang patah hati, mungkin buku ini bisa menjadi teman di hari-hari gelapmu. Nikmati saja cerita yang seakan dalam negeri dongeng ini. Kehidupan peternakan yang tak pernah terbayangkan dalam benakmu bisa saja sejenak mengobati hatimu yang sedang terluka itu. Yuk kamu bisa yuk!

Dari segi kertas, buku ini memakai kertas kuning. Kertas yang bagi saya sangat enak untuk dibaca. Tidak melelahkan sebagaimana ketika saya membaca kertas warna putih. Buku ini full tulisan. Tiada gambar sama sekali di dalamnya. Membebaskan kita untuk berimajinasi dengan liar dalam menggambarkan tokoh yang ada dalam buku ini.


Buku dengan jumlah total 163 halaman ini terbilang tipis. Kamu akan menemukan 10 Bab yang membawamu menuju dunia dongeng yang diciptakan George Orwell. Ketipisan dari buku ini memang menjadi suatu kekurangan bagi kamu yang mungkin kerap membaca novel maupun buku dengan halaman yang banyak. Buku ini sangat cocok untukmu yang suka membaca buku sambil lalu dan menjadikan membaca sebagai hiburan dan hobi saja. Cukup mantap untuk mengisi waktu luangmu.

Ada sedikit hal yang perlu saya soroti. Saya sedikit kurang terbiasa jika membaca buku dengan tampilan kalimat yang rata kiri (Align Left). Buku ini disusun dengan bentuk susunan kalimat yang disejajarkan kiri seperti itu. Pada awalnya saya merasa aneh dan kesulitan untuk menikmati buku ini. Karena buku yang kerap saya jumpai memiliki susunan kalimat rata kanan kiri (Justify) dan saya lebih menikmati susunan kalimat yang seperti itu. Bagaimana denganmu?

Dengan adanya kekurangan yang saya sampaikan di atas, bukan menjadi suatu alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa isi dari buku ini menjadi kurang menarik. Sama sekali tidak memengaruhi isi dari buku yang penuh dengan kejutan dan cukup menohok hati. Semoga untuk cetakan berikutnya, Penerbit Gading bisa memberikan tampilan yang lebih memberikan kenyamanan lagi untuk pembaca. Karena saya rasa, buku ini tidak akan berhenti di cetakan ketiga saja.

Buku ini cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan karya satire maupun sarkasme.
  • Kamu yang suka dengan buku politik dan segala hal di dalamnya.
  • Kamu yang sudah bosan dengan buku politik yang kaku dan terbilang kuno.
  • Kamu dengan kesibukan yang cukup padat. Karena kamu dapat menggunakan buku ini sebagai teman yang baik dikala jam istirahatmu. Buku ini terbilang tipis. Namun, tak cukup rasanya jika hanya menamatkan buku ini sekali saja.
  • Konten Kreator yang ingin menjadikan satire dan sarkasme sebagai tombak utamanya.
  • Pembaca pemula seperti saya.
Buku ini tidak begitu cocok untuk:
  • Kamu yang suka dengan buku nonfiksi.
  • Kamu yang suka dengan buku tebal. Karena buku ini teramat tipis dan jika kamu sudah terbiasa menamatkan bukumu yang tebal itu, membaca buku ini akan terasa kentang untukmu.
  • Kamu yang tidak suka memahami suatu kalimat secara mendalam.
  • Kamu yang lebih suka berimajinasi lewat gambar daripada tulisan. Sama sekali tiada gambar di dalam buku ini. Penuh tulisan.
Demikian sedikit review dari Pustaka Indo. Saya akui bahwa memang banyak sekali sisi subyektif yang saya tonjolkan, namun percayalah saya sudah berusaha untuk adil sejak dalam berpikir.

Semoga kamu suka dan mendapatkan informasi dari review yang saya sediakan di atas. Saya tidak akan memberi nilai pada sebuah karya karena semua orang berhak untuk memiliki pandangan yang berbeda. Toh, itu hanya sebatas kumpulan angka saja.

Untuk penutup, saya kutip sedikit kalimat dari akhir cerita buku ini.

"Kekuasaan membuat manusia buta-tuli dan pada tingkat yang lebih akut akan sulit membedakan mana yang manusia dan mana yang babi."

Saya doakan semoga di rak bukumu yang indah itu ada buku ini yang senantiasa terselip di antara buku-buku bagusmu yang kamu sayangi. Dan jika kamu ataupun saya diberikan suatu kesempatan untuk berkuasa, dapat menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Tetap menjadi manusia, tetaplah membaca dan panjang umur literasi Indonesia!

0 komentar

Posting Komentar