Jumat, 22 Mei 2020

Celoteh - Mawar Hitam Keperakan

Sumber Foto: pxhere.com


Kepulan asap dari kopi dan cerutu menjadi suatu paduan yang indah. Seindah perkenalanku dengan dirimu, kasih.

"Kalau bisa, menulislah dalam keadaan netral. Supaya tulisanmu tak campur aduk."

Temanku yang satu ini memang lihai untuk urusan hati. Namun, bagaimana bisa sebuah tulisan seperti ini hadir dengan suatu kenetralan?

Kopi akan nikmat jika ampasnya sudah mengendap. Sama halnya dengan mencari ilmu yang perlu adanya masa pengendapan. Tapi, apakah mungkin rasa ini dapat diendapkan terlebih dahulu? Selera humormu tinggi, kawan.

Aku sedang tidak netral. Bagaimana bisa netral jika mawarku memiliki warna baru? Dia tak lagi merah melainkan hitam pekat yang memancarkan warna keperakan. Memiliki sukma layaknya insan. Berpendar elok penuh nada dan warna.

Mengapa bisa begini? Mungkin karena bacaanku seminggu ini terkait dengan Budaya Skandinavia. Makianku sepanjang hari atas indahnya wanita perak Skandinavia merasuk kedalamnya. Entah mengapa aku suka perak. Bukan emas maupun perunggu. Perak cukup bagiku. 

Semua hanya perkara satu arah. Tak peduli esok mawarku akan menusukku dengan durinya, atau mungkin memberikan hadiah berupa semerbak harumnya. Aku hanya ingin tetap bisa melihatnya.

Membersamai dikala dia tumbuh dan meranum. Memandang nanar diluar kotak kaca ajaib yang kukenakan padanya dulu. Aku hanya ingin bersua. Tanpa berharap dapat merasa.

Mawarku akan terus tumbuh dan berevolusi. Ya, revolusi mungkin kata yang tepat. Karena kata reformasi nampaknya sudah tak ada marwahnya lagi.



Ruli Rukmana Sakti
Cilacap, 22 Mei 2020

0 komentar

Posting Komentar