Jumat, 22 Mei 2020

Celoteh - Musik Kekunoan (?)



Hujan dan musik seakan menjadi suatu perpaduan menarik saat ini. Musik bukan lagi menjadi suatu bagian dalam seni. Namun lebih dari sebuah komoditi. Sama halnya dengan musik lawas. Semakin digosok semakin mantap. Apakah kamu tertarik dengan hal ini?

Saya akan berbagi sedikit celotehan ringan malam ini. Bagi kamu yang belum tahu mengapa saya menulis hal semacam ini, Pancarobaku juga merupakan wadah bagi saya untuk menuangkan segala hal yang ingin saya tulis. Jika kamu tidak suka dengan karangan bebas yang saya tulis kali ini, boleh di skip saja. Toh, ini hanyalah catatan kosong biasa.

Kembali ke musik lawas. Tak ada acuan maupun batasan tertentu sejauh mana lagu yang kita dengarkan masuk dalam kategori "lawas" maupun "baru". Namun, saya sejenak ingin mengajak kalian hanyut kembali dengan musik di Indonesia sebelum tahun 2000'an. Banyak musisi yang masih eksis sampai saat ini. Mulai dari band maupun solo yang tentu tak asing lagi di telinga kita semua. Sebut saja Iwan Fals, Dewa 19, Slank, Padi, Rif, Kidnap Katrina, BiP, Sheila On 7, Jikustik, Shaggy Dog, Naif dan masih banyak lagi.

Banyak pula band dari Indonesia yang menyabet berbagai penghargaan. Kalian tentu bisa mencari sendiri tentang hal itu di Google. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, mengapa banyak orang yang mengatakan bahwa selera musik saya terlalu kekunoan? Padahal banyak musik lawas yang enak didengarkan. Simpel dan penuh makna. Saya bahkan sulit untuk menikmati musik kekinian. Karena menurut saya cenderung lebih kompleks dan penuh aransemen. Selera saya memang yang aneh.

Sejak kecil saya dijejali karya Nicky Astria, Nike Ardilla, Iwan Fals dan Slank. Sesekali The Beatles dan The Rolling Stones mampir juga menemani malam sebelum tidur. Itu semua tentu tak terlepas dari selera musik Bapak dan Ibu. Saya lahir tahun 1997 dan saya tinggal di suatu komplek perumahan yang terbilang asik. Satu gang depan rumah saya adalah keluarga besar dari Ibu. Jadi, tetangga saya adalah keluarga saya. Dan kamu tahu? Hampir semua keluarga besar saya adalah penikmat musik dari Slank. Terlebih album 1 - 5 yang dibawakan Slank Formasi 13 saat itu. Selebihnya, mereka adalah Baladewa dan OI. Slank, Dewa 19 dan Iwan Fals cukup memiliki andil yang besar dalam warna musik yang saya nikmati.

Saya sempat mendengarkan semua album Slank sejak dari album pertama hingga yang terbaru. Mulai dari album dengan lirik yang sangat nakal, vulgar, menohok hingga romantis dan penuh makna akan cinta pada Tuhan maupun pada Ibu. Anyer 10 Maret, Gemerlap Kota dan Terbunuh Sepi cukup membuat hati ini seakan teriris. Aku Gila, Kalah dan Memang cukup membuat saya ditegur tetangga jika menyanyikannya di tengah malam. Terlalu Manis, Kirim Aku Bunga, Foto Dalam Dompet dan Mawar Merah cukup membuat saya lihai dalam merayu pujaan hati.

Memang banyak kenangan yang kita ukir dalam hidup ini. Alunan musik yang kita dengar pun sering kali menjadi penenang, penyemangat dan gudang inspirasi dalam berkarya. Karya apapun. Termasuk di dalamnya perihal urusan kerja. Bicara tentang kerja, konser dapat menjadi salah satu momen untuk melepas penat saat seharian dipusingkan dengan urusan kerja. Konser pertama yang kamu datangi tentu mempunyai kenangan tersendiri bukan? Boleh saya tahu apa konser musik pertama yang kamu kunjungi? Ceritakan di kolom komentar ya!

Konser pertama yang saya kunjungi yaitu konser Slank di Purwokerto. Masih seputar Slank lagi. Maafkan saya ya. Itu momen yang tidak akan bisa saya lupakan. Sore itu saat saya masih SD saya diajak saudara untuk ikut nonton Slank. 

Orang tua saya pun mengijinkan, karena bisa dibilang yang berangkat ke sana adalah rombongan dari keluarga saya sendiri. Kami lantas bergegas dengan vespa kesayangan dan berangkat beriringan ke Purwokerto. Cilacap - Purwokerto seakan menjadi awal petualangan saya atas sejarah musik dalam hidup ini.

Ramai, hangat dan penuh warna. Itu yang dapat saya gambarkan. Semua kalangan seakan membaur menjadi satu di sana. Dan ternyata bukan saya sendiri bocah ingusan kecil yang hadir meramaikan band satu ini. Banyak anak lain entah itu laki-laki atau perempuan yang juga turut hadir. Dan satu hal yang paling  saya suka, semuanya datang untuk menikmati musik.

Kami menari bersama, sendu bersama bahkan duduk bersama. Ya, duduk bersama di atas rumput yang sama. Ada satu momen menarik yang selalu membuat saya terpana. Perlu kamu ketahui, penonton yang hadir sangatlah banyak. Mungkin ini karena saya masih kecil, jadi saya melihat orang sebanyak itu sudah cukup membuat saya kagum. Saya dibuat terpana ketika Kaka dan Bimbim memberi komando agar semua penonton duduk. Pada saat itu saya berada di barisan depan. Dan ketika saya melihat ke belakang, sejauh mata memandang semua orang tampak duduk.

Semua personil dari Slank pun turut duduk. Lagu yang dibawakan saat itu adalah #1. Sobat Slankers tentu akan tahu tentang asal muasal lagu ini. Lagu yang ditunjukan untuk Ibu itu tentu cukup membuat saya merinding. Di usia saya yang masih SD kebetulan saya hafal lagu itu. Semua orang mengeluarkan korek dan senter yang mereka bawa. Saya tak bawa keduanya. Saya hanya bernyanyi dan merinding dibuatnya. Dan kamu tahu siapa yang ada disebelah saya? Remaja pria yang sangat sangar, rambut punk, tindik dan tatto serta pakaian yang rebel sekali. Dia duduk dan bernyanyi. Terlintas saya melihat air mata mengalir di pipinya. Merasuk.

Itu yang membuat saya kagum. Semuanya manusia. Semuanya punya hati. Dan mereka bernyanyi dengan hati. Kebiasaan ini yang terus saya bawa sampai saat ini. Kemanapun saya melihat konser maupun pagelaran, saya berusaha sekuat hati untuk tidak menggunakan gawai yang saya miliki ketika seniman menampilkan karyanya. Saya ingin merasuk ke dalamnya. Saya ingin menemukan kembali orang yang serupa dengan orang yang saya temui ketika konser pertama yang saya kunjungi dulu. Saya ingin seperti dia. Menyatu dan merasuk.

Namun sayang, sulit saya temui momen seperti itu lagi di saat ini. Saya bahkan bingung, kapan mereka bisa menikmati musiknya jika fokus perhatian mereka masih tertuju pada gawai dimana tampilan story media sosial terpampang di sana. Bagaimana kita bisa menari bersama, jika kita harus menjaga kamera gawai kita agar tetap stabil dan fokus saat merekamnya?

Ya. Ini semua murni pandangan saya atas fenomena yang ada. Saya penikmat musik. Saya tidak terlalu selektif dan memfokuskan diri pada genre tertentu saja. Asal mudah didengar, saya akan menyukainya. Namun jika boleh jujur, saya kurang bisa menyatu dan merasuk pada konser yang ada saat ini. Jika saya di belakang, pandangan saya teralih oleh gawai yang menyembul begitu saja. Jika saya di depan, belum tentu samping kanan dan kiri saya ikut menyatu bersama. Semoga kita seniantasa dipertemukan dalam konser yang menyatu ya, suatu saat nanti.

Saya juga sulit untuk menemukan partner hidup dengan selera musik yang sama. Apakah kamu salah satunya? Sampaikan di kolom komentar ya! Mungkin akan menjadi suatu momen yang asik jika setiap pagi datang dan malam menjelang, kita berdua menyatu mendendangkan lagu yang sama.



Ruli Rukmana Sakti
Semarang, 29 Februari 2020

0 komentar

Posting Komentar